Rabu, 29 Juni 2011

Nasib Nelayan Marunda Kian Terpuruk, Anak Batal Sekolah!

MARUNDA- Nasib ratusan nelayan di pesisir Pantai Marunda, Cilincing kian hari makin memprihatinkan. Tempat mencari nafkahnya di laut sekarang ini sangat sulit untuk mendapatkan hasil tangkapannya. Akibat limbah yang sering membanjiri pesisir, larangan membuat sero di bibir pantai begitupun tambak-tambak nelayan yang kerap dilanda banjir rob membuat nelayan bingung harus berbuat apa. Sementara kebutuhan hidup sehari-hari meski dipenuhi.

Aslyik 52, Ketua Nelayan Pantai Pesisir Al-Alam Marunda menuturkan, Sedikitnya ada 118 nelayan yang tergabung dikelompoknya ini sudah 3 bulan tak bisa melaut untuk mencari ikan. Bahkan sebagian ada yang beralih profesi menjadi tukang ojek, kuli bangunan bahkan memungut sampah laut yang bisa dimanfaatkan jadi uang.  Karena penghasilan pas-pasan ini, banyak dari keluarga nelayan yang mengkorbankan anaknya putus sekolah.Bahkan jumlahnya mencapai puluhan.

"Akibat penghasilan melaut sudah tak ada, banyak dari nelayan di Marunda yang hidupnya pas-pasan bahkan harus mengkorbankan anaknya tidak sekolah" kata Aslyik.

Seperti yang dialami anggotanya Emin 45 ayah beranak dua warga RT 3/7 Marunda ini terpaksa tidak sanggup untuk membiayai kedua anaknya bersekolah lagi. Rohma 12 tahun harus putus sekolah ditengah jalan duduk di kelas 5 SD. Padahal Iwan ingin sekali bisa bersekolah seperti teman-teman lainnya.

"Mau sih pak sekolah lagi, begitu juga adik saya Iwan yang batal masuk ke kelas 1, karena bapak sama ibu engga punya uang untuk biaya sekolah" kata Rohma didampingi Aslyk Ketua  Kelompok Nelayan Al-Alam Marunda.

Begitupun dialami Ani 47, warga RT 6/7 Marunda terpaksa tidak mampu lagi menyekolahkan anaknya lantaran tak punya biaya kebutuhan untuk pendidikan anaknya. Kini Dewi 13, hanya bisa sekolah sampai di kelas lima saja. "Habis mau gimana lagi mas! penghasilan pas-pasan, biaya kebutuhan sekolah seperti perlengkapan dan uang buku harus membayar. Sementara untuk makan saja kembang kempis" keluhnya.

Ani yang kesehariannya hanya pedagang makanan dan minuman di pantai Marunda dan suaminya Mursal 48 pengemudi ojek motor ini hanya bisa pasrah dan berharap  ada solusi dari pemerintah.

Fhilis Sudianto Pemerhati Lingkungan Sosial Dan Pendidikan Jakarta Utara kurang pengawasan dan kontrol pihak instansi pendidikan terhadap anak-anak putus sekolah di kawasan pesisir pantai ini akibat kondisi ekonomi keluarganya. Meski Pemda DKI Jakarta sudah menjelaskan pendidikan gratis dan wajib bagi anak-anak untuk mendapatkan sekolah 9 tahun.

"Wajar jika masih banyak anak-anak di pesisir pantai ini putus sekolah, ini disebabkan kurang pengawasan, kontrol serta masih ada pungutan yang membebani orangtua murid. Untuk itulah Pemerintah tanggap, agar anak-anak yang putus sekolah tadi bisa merasakan pendidikan" tuturnya.

Liburan Isra Miraj, Peziarah Datangi Masjid Al-Alam Marunda

MARUNDA- Menyambut hari libur Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, yang jatuh pada hari ini 29/6/2011 berbagai aktivitas dilakukan oleh warga untuk mengisi liburan. Salah satunya berziarah ke Masjid Al-ALam Marunda di Kampung Marunda Pulo RW 7, Marunda Jakarta Utara. Masjid ini seringkali disebut Masjid Si Pitung, Masjid Al Alam 2, dan Masjid Al Auliya. Beberapa catatan sejarah menyebutkan, masjid ini dibangun Fatahillah pada tahun 1527.

Dikisahkan, ketika itu Fatahillah bersama pasukannya yang berasal dari Banten datang ke tepi pantai Marunda untuk menghadang armada Portugis yang akan mendarat di lokasi itu. Selain diiringi pasukannya, Fatahillah juga ditemani beberapa orang Waliyullah yang memiliki karomah tinggi. Tetapi Fatahillah tidak menempatkan pasukannya hanya di satu lokasi. Sebagian pasukannya dikonsentrasikan di beberapa lokasi yang berjauhan. Tujuannya agar mempermudah pengintaian seandainya armada Portugis tidak persis mendarat di Marunda.

Seluruhnya ada 7 lokasi. Tetapi hanya 4 lokasi saja yang hingga kini diketahui keberadaannya, yaitu di kawasan Pasar Baru (sekitar 25 km dari Masjid Al Alam 2), Masjid Al Alam 1 (sekitar 3 km dari Al Alam 2) dan di daerah Bojong (10 km dari Masjid Al Alam 2). Sedangkan Fatahillah bermarkas di Marunda. Fatahillah dikenal pula sebagai pendiri Kota Jakarta. Masjid ini pernah pula dijadikan markas pasukan Mataram sebelum menyerbu Batavia.

"Setiap ada tanggal merah islam, kami bersama keluarga kemari untuk berziarah dan melihat keadaan Masjid Al-alam mas! usai ziarah bisa berwisata ke laut" tutur Imah 45, warga Babelan, Bekasi Utara. Begitupun disampaikan Murti 39, warga Koja Jakarta Utara. Ia memilih berwisata ziarah ke Masjid Al-Alam selain lokasinya dekat dari tempat tinggalnya, juga ingin melihat seperti apa kondisi masjid yang usianya sudah ratusan tahun."Ternyata Masjid Al-Alam banyak karomahnya, luar biasa, apalagi air sumurnya tak pernah kering" ujarnya.

Usman 49, Ketua RT 3/7 Marunda menjelaskan  selain hari libur keagamaan islam, malam Jum,at maupun menyambut datangnya bulan Ramadhan banyak orang yang datang ke Masjid Al-Alam untuk berziarah atau berwisata rohani. Ziarah ini sudah berlangsung lama selama puluhan tahun. Bahkan adanya Masjid tersebut telah banyak membantu ekonomi warga sekitar untuk menjajahkan barang dagangannya seperti warung makan dan lainnya."Masjid Al-Alam banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah dan wilayah lainnya, karena masjid ini banyak mempunyai nilai sejarah perjuangan dan penyebaran agama islam" ujarnya. (Bian)

Selasa, 28 Juni 2011

Warga Minta Larangan Parkir Yang Roboh Segera Dipasang!

Warga Semper Timur, Cilincing meminta kepada Sudinhub Jakarta Utara segera memasang kembali rambu larangan parkir truk kontainer di sepanjang jalan Arteri Marunda, Cilincing yang diduga dirusak oleh orang tak bertanggung jawab.Pasalnya sejak rambu larangan parkir itu rusak dan tidak dipasang kembali, truk-truk leluasa memparkirkan kendaraan kontainernya di sepanjang jalan itu.

"Sejak rambu itu rusak dan diamankan petugas, kini truk-truk kontainer kian marak parkir di sepanjang jalan itu, akibatnya rawan macet dan kecelakaan" ujar Murdianto 40, pengemudi ojek yang mangkal diperempatan Arteri Marunda. Menurutnya, sudah tiga kali sepanjang ia mangkal ojek yang tak jauh dari lokasi rambu larangan parkir yang rusak dan disengajakan roboh itu. Tiga tahun lalu larangan masuk bagi truk kontainer tonase diatas 20 ton hilang, begitupun larangan berhenti disepanjang jalan juga hilang, kali ini larangan parkir disepanjang jalan bagi truk justru dirobohkan.

"Meskinya petugas menyelidiki, kenapa rambu-rambu yang terpasang di jalan Arteri Marunda kerap hilang atau dirusak, bisa jadi ada yang merasa dirugikan" tuturnya.


Parlindungan Butar-Butar Kasudin Perhubungan Jakarta Utara menjelaskan, rambu larangan parkir truk di sepanjang jalan arteri Marunda ini diduga rusak dan roboh karena di tabrak truk kontainer. Kini rambu larangan parkir yang terbuat dari besi setinggi 7 meter sudah diamankan ke kantor Sudin.

"Untuk pemasangan kembali rambu larangan parkir itu, pihak sedang menunggu RAB (Rencana Anggaran Belanja) agar bisa kembali dipasang" ujar Kasudin saat dihubungi melalui telepon selularnya.

Sementara itu, Fhilis Sudianto Pemerhati lingkungan dan pemerintahan menyayangkan jika pemasangan rambu larangan parkir tersebut harus menunggu RAB. Jika memang itu darurat dan penting bagi masyarakat meskinya bisa kembali dipasang. (Bian)

Jumat, 24 Juni 2011

Belasan Anak Putus Sekolah Akibat Terjepit soal Ekonomi

MARUNDA- Masalah himpitan ekonomi berdampak anak terpaksa harus tidak lagi merasakan bangku pendidikan. Hal inilah yang dialami anak-anak dipesisir pantai Marunda, Cilincing Jakarta Utara.Padahal Pemda DKI Jakarta sudah menjelaskan bahwa warga Jakarta wajib sekolah 9 tahun. Terlebih penerimaan sistem online beberapa hari lalu membuat anak-anak di kawasan itu tak bisa mendapatkan kursi di bangku SD lantaran ketidaktahuan para orangtua murid dalam penggunaan internet.


Ani 47, warga RT 6/7 Marunda terpaksa tidak mampu lagi menyekolahkan anaknya lantaran tak punya biaya kebutuhan untuk pendidikan anaknya. Kini Dewi 13, hanya bisa sekolah sampai di kelas lima saja. "Habis mau gimana lagi mas! penghasilan pas-pasan, biaya kebutuhan sekolah seperti perlengkapan dan uang buku harus membayar. Sementara untuk makan saja kembang kempis" keluhnya.

Ani yang kesehariannya hanya pedagang makanan dan minuman di pantai Marunda dan suaminya Mursal 48 pengemudi ojek motor ini hanya bisa pasrah dan berharap agar ada solusi dari pemerintah. Hal senada disampaikan Minah 40, warga RT 7/7 Marunda lainnya. Dirinya tak mampu lagi untuk bisa menyekolahkan anaknya Kristina 12 tahun yang baru tamat SD tahun ini. Ibu beranak tiga ini pesimis karena melihat NEM anaknya hanya 16.20. besar kemungkinan tidak mendapatkan sekolah negeri.

"Kalau nanti bisa diterima sekolah negeri dipikirkan lagi, tapi kalau tidak yaa engga usah sekolah, lebih baik cari bekerja" ujar Minah. Menurut Minah, banyak anak-anak di kawasan pesisir pantai Marunda yang hanya sekolah sampai duduk dibangku kelas 6 atau putus ditengah jalan. Dan mereka lebih memilih bekerja sebagai tukang cuci piring di sekolah STIP.

"Banyak sih pak! anak-anak disini putus sekolah, untuk mengisi kekosongan waktu mereka kerja sebagai tukang cuci piring" tuturnya.Baik Ani maupun Minah, mewakili wali murid yang nasibnya sama di pesisir laut merupakan potret pendidikan di DKI Jakarta yang meski di perhatikan dan pemerintah harus turun tangan.

Fhilis Sudianto, Pemerhati sosial dan Pendidikan Jakarta Utara menjelaskan, kurangnya pengawasan dan kontrol pihak instansi kepada sekolah-sekolah  seperti masih adanya pungutan membuat banyak anak-anak di pesisir putus sekolah lantaran kesulitan ekonomi orangtua murid.

Begitupun dengan sistem online penerimaan siswa baru tingkat SD. Filis Sudianto menambahkan, ada dampak positif dan negatif pendaftaraan sistem online. Sayangnya sistem ini belum sepenuhnya menjamah masyarakat kelas bawah, akibatnya banyak orangtua yang Gagtek (Gagal Teknologi) tentang PSB Online. "Meskinya disiapkan dahulu, dari mulai sosialisasinya, tata caranya, petugas disekolah sampai pada persiapan persyaratannya seperti KK dan Akte lahir apakah sudah semua warga memilikinya" tuturnya. Terbukti justru banyak siswa-siswa yang diterima yang lokasi rumah tinggalnya jauh dari sekolah, sementara yang dekat justru tak dapat tempat.

Ditambahkan Filis Sudianto kalau sistem online tingkat SMP atau SMA tidak masalah. Pasalnya siswa yang datang ke sekolah untuk daftar dan penerimaan online melalui nilai hasil ujian. Kalau tingkat SD sudah pasti si orangtua murid yang datang langsung untuk daftarkan anaknya" .Banyak warga di Jakarta Utara engga ngerti apa itu online, seperti warga Kalibaru, Marunda atau pesisir laut.Jangankan mikir internet, mikirin dapur rumah dan jaring saja sudah bingung" ujarnya.  (Bian)

Selasa, 21 Juni 2011

Dari Mulai Remaja ,Manula Dan Penyandang Cacat Ikut Nikah Massal

KOJA- Sebanyak 33 Pasangan suami istri di  Koja hari ini melaksanakan nikah massal di kantor kecamatan Koja, Jakarta Utara. Nikah massal yang digelar serentak di 6 kecamatan di Jakarta Utara ini merupakan kerjasama Pemko Jakarta Utara, Sudin Sosial, PSM (Pekerja Sosial Masyarakat) dan Yayasan Pondok Kasih serta KUA Kecamatan Koja. Dalam kegiatan nikah massal ini, Muhammad Effiskal Camat Koja menjelaskan, dengan diberikannya buku nikah kepada peserta nikah massal ini sudah tercatat secara hukum.

"Nikah massal ini dilakukan agar mereka yang selama ini sudah nikah namun belum tercatat secara hukum terutama mereka adalah masyarakat tak mampu" ujar Muhammad Effiskal.


Uang Mas Kawin Rp 10 Ribu

Sementara itu, Mulyadi 51,salah seorang penyandang cacat yang ikut dalam nikah massal ini sangat senang dan bahagia. Meski dirinya sudah nikah sirih pada tahun 2001 lalu, namun berkat adanya kegiatan tersebut ia bisa mendapatkan surat nikah resmi. Bahkan dalam ijab kabulnya hanya menyerahkan mas kawin uang sebesar Rp 10 ribu kepada istrinya Nurhayati."Alhamdullilah mas! adanya kegiatan ini saya kini sudah punya surat nikah resmi meski uang mas kawinnya Rp 10 ribu" ujar Mulyadi sambil menerima surat nikah dari penghulu dan Camat Koja. Sementara itu dua pasangan termuda yakni Dolli 24 dan Anita 20 serta Riyono 21 dan Haryati 20 juga merasakan kebahagian lantar kini pernikahannya sudah diberikan surat nikah. "Habis gimana pak! mau nikah harus juga bikin ramai-ramai, karena tidak mampu nikah sirih" tutur Dolli.



Senin, 20 Juni 2011

Gubernur Senang Siswa SD Di Jakarta Lulus 100 Persen

Kelulusan 100 persen yang diraih siswa tingkat SD pada Ujian Nasional (UN) membuat Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo puas. Hal ini dinilai sebagai bukti bahwa ibukota merupakan barometer pendidikan bagi, kota-kota di daerah lainnya. Terlebih menurut orang nomor satu di ibukota ini mengungkapkan bahwa Pemprov DKI Jakarta tidak mematok kelulusan SD hingga 100 persen. “Saya gembira mendapatkan laporan tingkat kelulusan UN SD di DKI jakarta mencapai 100 persen. Meskipun saya tahu banyak catatan khusus untuk mencapai prestasi itu,” kata Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, di Balaikota, Senin (20/6).
Berdasarkan Data Pendidikan DKI, seluruh siswa sekolah dasar (SD) baik negeri maupun swasta di DKI Jakarta dinyatakan 100 persen lulus dengan nilai rata-rata mencapai kenaikan yaitu 22,82. Nilai rata-rata untuk tiga mata pelajaran pada tahun ini adalah Bahasa Indonesia 8,22, Matematika 7,39 dan IPA 7,21.
Pencapaian ini meningkat dari tahun ajaran sebelumnya yang hanya mencapai 99,98 persen saja dengan nilai rata-rata mencapai 21,46. Dengan nilai rata-rata untuk tiga mata pelajaran yang diujikan yaitu Bahasa Indonesia 7,44, Matematikan 6,97 dan IPA 7,05.
Sementara itu dari peringkat kelulusan, Jakarta Selatan berada di peringkat teratas. Dengan perolehan nilai rata-rata 7,84 dari 29.039 lulusan siswa. Kasudin Pendidikan Dasar (Dikdas) Jaksel Amsani Idris didampingi Kepala Seksi SD, Momon Sulaiman menjelaskan, nilai tertinggi UN 2011 mencapai 10 untuk ketiga mata pelajaran yang diuji yakni Bahasa Indonesia, IPA dan Matematika. “Alhamdulillah seratus persen siswa SD di Jaksel lulus. Bahkan kelulusannya tahun ini menjadi yang terbaik se-DKI Jakarta,” kata Amsani Idris.
Prestasi ini semakinlengkap terpilihnya Sub Rayon Kecamatan Pancoran sebagai Sub Rayon terbaik di DKI Jakarta. Serta SDN Kebon Baru 03 Pagi Tebet sebagai SD terbaik ke-2 se-DKI Jakarta. Menyinggung kelulusan UN di SDN 06 Pesanggrahan yang disiniyalir telah terjadi contek massal dijelaskan Momon Sulaiman, 100 persen (72 siswa) lulus dengan hasil bervariasi. Nilai UN tertinggi 27,60 dan terendah 15,90. “Hasil nilai UN di SDN 06 Pesanggrahan bervariasi. Kondisi ini menepis indikasi contek massal,” pungkasnya.

Belasan Cafe Liar Di Insfeksi Cakung Draine Di Bongkar


CILINCING- Sebanyak 15 bangunan liar Cafe di sepanjang jalan Insfeksi Kali Cakung Draine, Cilincing Jakarta Utara dibongkar paksa oleh ratusan anggota trantib Jakarta Utara. Penertiban ini dilakukan lantaran bangunan-bangunan yang dikemas Cafe liar ini meresahkan warga sekitar dan berdiri diatas tanah fasilitas umum.  Wakil Camat Cilincing Dedi Tarmidzi bersama Ganef Kabag Operasional Sudin Trantib Jakarta Utara menjelaskan, bangunan-bangunan liar berkedok Cafe ini sudah meresahkan warga sekitar maupun penghuni rumah susun. Selain mengganggu kenyamanan warga setiap malam hari, keberadaannya juga berdiri diatas tanah fasilitas umum.

"Kita sudah coba peringatkan dari mulai lisan hingga teguran melalui surat peringatan , karena diindahkan kami bongkar" tuturnya. Ditambahkan Dedi, bangunan cafe yang berdiri diatas saluran air ini menyumbat aliran air yang tertampung di kali gendong menuju ke Cakung Draine. Akibat bangunan-bangunan tersebut kerap kawasan yang tak berdekatan dengan wilayah ini dilanda banjir.


Ganef menambahkan, apapun bangunan yang berdiri diatas saluran air maupun dipinggir kali melanggar peraturan daerah yang meski ditertibkan. Meski baru 15 bangunan cafe semi permanen maupun warung remang-remang yang dibongkar hari ini, pihaknya akan melakukan penertiban berkelanjutan, sehingga bantaran kali bersih dari bangunan liar.

"kami tidak tebang pilih dalam membongkar, dan untuk bangunan lainnya akan kami bersihkan secara berkelanjutan" tuturnya. Sementara itu, Firman 35 dan Laila 38, salah seorang pemilik bangunan cafe dan warem terlihat pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa. Dirinya cuma bisa mengamankan barang-barang berharganya, dan meratapi bangunanya yang sudah hancur lebur. "Kami bangun pakai uang pak! mau berbuat apalagi mau cari makan berdagang saja harus dibongkar" cetus Firman dan laila. Mereka juga menyayangkan untuk menertibkan belasan bangunan harus menerjunkan ratusan petugas. Dalam penertiban ini sedikitnya 400 petugas gabungan dari Sudin Trantib Jakarta Utara , kecamatan, Polsek Cilincing dan Koramil Cilincing diterjunkan. Peneriban berjalan aman dan lancar. (Bian)

Senin, 06 Juni 2011

1000 Pencinta Sepeda Akan Keliling Kepulauan Seribu

Sebanyak 1.000 pecinta bersepeda ditargetkan  mengikuti Tidung Fun Bike 2011 yang diadakan di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan, Kepulauan Seribu (12/6).  Sepeda santai yang pertama kali digelar Kabupaten termuda di DKI Jakarta itu rencanannya akan dibuka langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. “Saat ini sudah hampir 100 persen, sedangkan untuk track sepedanya mencapai 75 persen,” ungkap Ketua FTB 2011, Eko Suroyo.

Selain melepas perserta Tidung Fun Bike Gubernur DKI  juga akan melantik Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Komite Sepeda Indonesia (KSI) yang ada di Kabupaten Kepulauan Seribu. Hal ini sengaja dibentuk dengan tujuan agar masyarakat di Utara Jakarta ini juga lebih mencintai sepeda.

Bupati Kepulauan Seribu, Achmad Ludfi didampingi Camat Kepulauan Seribu Selatan Satriadi Gunawan, mengatakan, FTB 2011 ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk menyambut HUT Kota Jakarta yang ke 484. “Kita berharap semuanya berjalan lancar dan peserta dapat menikmati alam bahari sambil berolahraga sepeda,” ujarnya. Untuk memeriahkan kegiatan itu sejumlah artis ibukota dan komunitas sepeda di Jakarta didatangkan. Dia juga berharap kedepan event seperti ini tetap dilakukan tiap tahun, karena kegiatan ini merupakan bagian dari promosi Kepulauan Seribu sebagai destinasi wisata di Jakarta dan Indonesia pada umumnya.
Kedepannya,  FTB diupayakan akan jadi agenda kegiatan Provinsi DKI Jakarta untuk merayakan hari jadi. “Kepulauan Seribu adalah bagian yang tak terpisahkan dari Jakarta. Masyarakat Kepulauan Seribu adalah masyarakat Jakarta. Jadi sewajarnya jika kegiatan ini ditetapkan sebagai agenda rutin dalam menyambut hari ulang tahunnya,” kata Achmad Ludfi.

Sabtu, 04 Juni 2011

Nelayan Marunda Minta Pemerintah Serius Tangani Limbah


MARUNDA- Dampak limbah yang mengotori perairan pesisir Pantai Marunda, Cilincing membuat puluhan nelayan tangkap di kawasan itu tak bisa melaut, dan berharap kepada pemerintah untuk serius menanganinya serta menindak perusahaan yang membuang limbah sembarangan. Pasalnya, perairan laut dan pesisir ini merupakan tempat bersandarnya nelayan untuk mencari nafkah bagi kehidupannya.

Asliyk 49, Ketua nelayan Tradisional Marunda menjelaskan, dampak limbah cair yang mencemari pesisir pantai Marunda 3 hari lalu telah membuat nasib nelayan untuk mendapatkan ikan kandas, apalagi ikan-ikan yang mati tersebut rata-rata berusia 2 sampai 3 bulan yang mestinya bisa di tangkap. "Akibat limbah ini banyak nelayan menelan kerugian waktu dan pembelian bahan bakar"  tutur Aslyik.

Akibat limbah ini, nelayan terpaksa menunggu lagi waktu selama 3 bulan untuk mendapatkan ikan dewasa yang siap dijual, itupun jika benih-benih ikan tidak ikut mati.

"Limbah cairnya ini berbentuk seperti susu, limbah seperti inilah yang langsung membuat ikan cepat mati" ujarnya.

Hal senada disampaikan Usman 50, Ketua RT 3/7 Marunda yang profesinya juga sebagai nelayan jaring. Akibat limbah ini memang nelayan sangat terpukul dan mau minta tanggung jawab siapa, untuk itulah mereka sangat berharap pemerintah melalui instansi terkaitnya agar menindak mereka yang sengaja membuang limbah ke pesisir laut terutama limbah yang berasal dari pabrik-pabrik.

Hasil pantauan di kampung Nelayan Marunda, sejak paska terserang limbah, kini para nelayan hanya bisa pasrah dan sambil memperbaiki perahunya maupun jaring tangkap. Dengan kejadian seperti ini diharapkan pemerintah untuk tidak tutup mata, karena menangkap ikan di laut merupakan keahlian nelayan di marunda yang  menjadi mata pencaharian warga secara turun menurun.  Sebagai catatan sedikitnya ada 230 nelayan di Kampung Marunda Pulo dan Kepuh.

Ratusan Warga Minggu Pagi Gelar Aksi Bersih

"Semangat Gotong Royong  Tergantung Pemimpin Wilayahnya "
Tanjung Priok- Aksi gotong royong dengan aksi bersih setiap hari minggu sudah menjadi rutinitas warga untuk membersihkan lingkungannya. Kerja bakti gotong royong ini sudah menjadi tradisi bahkan menjadi salah satu hubungan tali silahturahmi antar warga. Namun bisa saja kerja bakti diwilayah tak optimal kalau si pemimpin wilayah tak mau tahu atau masa bodoh.

"Warga akan selalu semangat untuk kerja bakti, apalagi pemimpin wilayahnya baik Lurah dan Camat ikut bersama, karena dengan hadirnya pemimpin wilayah ini, wargapun semangat karena diperhatikan dan peduli" kata Amiruddin Ketua RT 1/5 Semper Barat, Cilincing disela - sela aksi bersih saluran air di Jalan Tipar Cakung yang langsung dimonitoring lurah.

Menurutnya, peran lurah atau Camat sangatlah berpengaruh dan bisa memberikan motivasi warga semangat dalam membersihkan lingkungannya.

Hal senada juga disampaikan Sutrisno 34, warga Kamal Muara,Penjaringan  jika kerja bakti atau gotong royong ikut dipantau oleh lurah atau camatnya maka akan tumbuh semangat di warga untuk bekerja. Tapi kalau lurah atau camatnya tak pernah ikut apalagi datang ke wilayah, sudah barang tentu penyakit malas akan timbul.

"Kalau kerja bakti Lurah dan Camatnya ikut memantau dan bersama warga sudah pasti warganya yang datang akan banyak, namun berbeda jika ketua RT atau RW yang menyuruh, sering kali dianggap sepele" tuturnya.

Kelik Sutanto Lurah Semper  Barat maupun M.Effiskal Camat Koja saat ditemui disela-sela pemantauan aksi gotong royong setiap minggu pagi menjelaskan, monitoring aksi bersih ke sejumlah wilayah setiap hari minggu sudah menjadi program rutinitas untuk melihat dari dekat partisipasi warga untuk menjaga lingkungannya tetap bersih. Dan dibernarkan jika sosok lurah atau camat hadir dikegiatan tersebut sangat memberikan motivasi dna semangat kerja bagi masyarakat.

"Mereka sangat senang karena kerja keras untuk membersihkan lingkungannya diperhatikan" tutur Effiskal.

Hasil pemantauan sejumlah lokasi yang menggelar aksi kerja bakti terlihat di Jalan Tipar Cakung, Komplek UKA Tugu Utara, Koja, Jalan Raya Plumpang B ,RBS, Jalan Teluk Gong RW 4 Pejagalan, RW 11 Muara Angke , Pluit dan  Jalan Kelapa Hibrida Kelapa Gading Jakarta Utara.

Berikan layanan, Sambil Bersosialisasi E-KTP di Warga


PAPANGGO- Pelayanan KTP Mobile yang digelar Sudin Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Utara putaran ke 21 ini masih terus di minati warga untuk bisa mendapatkan pelayanan ini. Pelayanan kali ini digelar di kantor RW 5 Kel Papanggo, Tanjung Priok Jakarta Utara. Sejak pukul 08.00 pagi pelayanan dibuka puluhan warga langsung mendatangi petugas untuk mendaftarkan berkas permohonan perpanjangan KTP maupun pembuatan KK lokal ke KK nasional. Pelayanan ini juga dimanfaatkan petugas menyampaikan pemberlakukan E-KTP pada bulan Agustus 2011 nanti. "Untung saja ada pelayanan jemput bola seperti ini, selain cepat dan mudah, kami mendapatkan informasi terbaru tentang rencana pergantian KTP elektronik pada awal Agustus 2011 nanti" kata Neni 35, warga RW 5 Papanggo.


Edison Sianturi Kasudin Dukcapil Jakut didampingi Ulin Nuha Lurah Papanggo menjelaskan rangkaian kegiatan pelayanan jemput bola ini salah satu pelayanan prima kependudukan bagi warga Jakarta Utara. Terutama di wilayah yang padat, jauh dari kantor kelurahan dan memang warga sibuk tak punya waktu untuk mengurus surat kependudukannya. Selain itu juga Pihak Sudin juga melakukan penjelasan dan sosialisasi langsung kepada Pengurus RW dan RT serta warga yang datang tentang pemberlakukan E-KTP.

"Jadi nanti KTP yang sudah niknas ini akan ditukar lagi dengan E-KTP yang di lengkapi Sidik jari dan chipnya pada bulan Agustus nanti, maka dari itu warga yang belum mengganti KTP atau KK lokalnya ke KK nasional agar secepatnya diganti" tuturnya. Selama satu jam, Kasudin memberikan penjelasan kepada warga maupun pengurus RT/RW yang datang ke lokasi KTP Mobile.

"Informasi E-KTP ini sangat penting bagi warga yang belum mengetahuinya, saya akan tindak lanjuti untuk memberikan informasi kepada warga yang belum mengetahui pelaksaan E-KTP pada bulan Agustus 2011 nanti" ujar Daroji Ketua RW 5 Papanggo. Dalam pelayanan KTP Mobile ini sedikitnya 39 KTP dan 79 KK tercetak.(Bian)

Ratusan Warga Gotong Royong Bersihkan Saluran Air

SEMPER BARAT- Ratusan warga RT 1/5 Kel Semper Barat, Cilincing melakukan gotong royong membersihkan saluran air di Jalan Tipar Cakung dan Jalan Tipar Selatan.  Kegiatan gotong royong ini sudah rutin dilakukan warga setiap hari libur. Tujuannya agar air di saluran bisa lancar menuju ke kali. Warga yang berbekal cangram, cangkur, sapu lidi, sekup dan gerobak sampah bahu membahu menyisir saluran untuk mengeruk lumpur dan sampah di saluran.

"Kalau tidak dibersihkan setiap minggu, sampah dan lumpurnya menumpuk, dan kalau datang hujan air mudah menggenangi jalan" ujar Hasan 25, warga RT1/5 Semper Barat, Cilincing.


Amiruddin 49, Ketua RT 1/5 Semper Barat, menjelaskan, kegiatan gotong royong seperti ini harus dipertahankan, selain lingkungan tetap bersih dan sehat  juga wilayahnya bebas dari genangan air saat hujan turun. Kegiatan ini juga menjadi hubungan baik untuk mengikat tali silahturahmi antar warganya.

"Kegiatan gotong royong bersih lingkungan kita lakukan setiap minggu, selain membangun lingkungan tetap bersih juga menjaga hubungan baik antar warga" tutur Amiruddin.

Sementara itu, Kelik Sutanto Lurah Semper Barat menuturkan, kegiatan aksi bersih setiap minggu sudah menjadi program rutinitas wilayah untuk menciptakan lingkungannya bersih dan sehat. Kepedulian warga pada lingkungannya merupakan tanggung jawab bersama. Dirinya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada warganya yang terus mempertahankan semangat gotong royong untuk kepentingan lingkungan. (Bian)