Selasa, 05 Juli 2011

Hindari Genangan Air di Jalan, Pengendara Motor Tewas Tergilas Trailer

Menghindari genangan air, satu dari dua penunggang sepeda motor tewas digilas trailer di Jalan Raya Tugu, Koja, Jakarta Utara, Selasa (5/7). Korban tewas seketika dengan kondisi kepala remuk, sementara rekannya yang dibonceng berhasil lolos dari maut kendati mengalami luka memar di sekujur tubuhnya.
 
Yuditya Gagarin, 21, tak mampu mengendalikan laju sepeda motor Honda Revo B 3505 BBM yang dibawanya akibat tergelincir saat berusaha menghindari genangan air di jalan tersebut. ‘Yudit jatuh ke sebelah kanan, sementara saya ke kiri,’ ujar Riko, 42, rekan korban.

Kecelakaan maut yang menimpa pemuda berprofesi sebagai tukang servis AC itu berawal ketika kedua penunggang motor tersebut tengah mengarah ke Cilincing untuk menunaikan tugasnya. Laju motor melambat saat korban melihat ada genangan air di depannya, selanjutnya ia berinisiatif mengambil lajur sedikit ke kanan jalan untuk menghindari genangan tersebut. ‘Mungkin jalanan licin, motor terjatuh. Dan di saat bersamaan datang trailer dari belakang,’ kata Riko. Yudit tewas tergilas roda belakang trailer B 9689 UEH yang dikemudikan Irwandi, 33. ‘Sopir masih kita mintai keterangan, sementara korban dievakuasi ke RSCM untuk keperluan visum,’ ujar Kanit Laka Lantas Jakut, AKP Didik. S .

Cegah Tawuran, LMK Dan Lurah Gelar Road Show RW

KALIBARU- Kelurahan Kalibaru bersama 14 anggota LMKnya akan melakukan Road Show ke  lingkungan RW di Kalibaru dari tanggal 9 -27 Juli 2011. Tujuan Road Show selain melakukan silahturahmi ke kantor RW sekaligus pengenalan LMK kepada masyarakat, tokoh masyarakat, pemuda dan PKK.

Menurut Seran Hambali Lurah Kalibaru didampingi Ketua LMK Kalibaru Slamet Alfaridji menjelaskan, kegiatan ini merupakan program kerja LMK dalam rangka silahtuhrami dan menampung aspirasi masyarakat dalam memberikan informasi pembangunan wilayah termasuk pembinaan wilayah secara keseluruhan. Begitu juga pemberitahuan menyambut datangnya bulan puasa serta menciptakan suasana aman, tertib dan nyaman untuk warga Kalibaru.

"Road Show dilakukan selama 14 hari ke 14 RW di Kalibaru, satu hari itu dimanfaatkan untuk mengumpulkan aspirasi masyarakat serta sumbangsih warga dalam memberikan informasi pembangunan lingkungan dan lainnya" ujar Seran Hambali Lurah Kalibaru.

Slamet Alfaridji Ketua  LMK Kalibaru menuturkan, dengan kegiatan ini selain masyarakat bisa menyampaikan keinginan dan usulan untuk wilayahnya melalui LMK dan menjaga hubungan harmonis antar warga, juga kegiatan ini mengikat bahwa LMK sebagai motor masyarakat tidak ada perbedaan dalam menyelesaikan setiap persoalan.

"Kita ini sudah dipilih oleh masyarakat, tak ada perbedaan antara LMK RW , semua yang duduk jadi LMK adalah duta aspirasi masyarakat untuk bisa memajukan wilayahnya" ujarnya. Ditambahkan, apalagi sebentar lagi akan memasuki bulan puasa, diharapkan peran serta semua lapisan masyarakat Kalibaru untuk menjadi bulan puasa ini bulan penuh berkah dan warga yang menjalankan ibadah nyaman, aman dan tertib.

Senin, 04 Juli 2011

Tak Punya Biaya, Rela Anak Lulus SD Gagal Sekolah

MARUNDA- Lantaran tak punya biaya dan keterbatasan ekonomi, pasangan suami istri Wasta 40 dan Muminah 37 warga RT 3/1 Marunda, Cilincing terpaksa membatalkan niat anaknya untuk melanjutkan sekolah ke SMP.Padahal Pemda DKI Jakarta sudah mempunyai program 9 tahun wajib sekolah bagi anak-anak usia sekolah.

Dewi 12 tahun, siswa lulusan SDN 02 Marunda tahun 2011 ini tak mau lagi tinggal dirumahnya, lantaran malu karena teman-teman sebayanya tetap melanjutkan sekolah ke SMP.Kini Dewi mengungsi ke rumah neneknya di daerah Bojong, Bekasi Utara.

"Sejak lulus SD, ia memang keinginan untuk melanjutkan ke sekolah lagi, tapi apa daya mas! biaya untuk kebutuhan hidup sehari-hari sudah pas-pasan" ujar Muminah sambil meneteskan air matanya.



Dijelaskan, saat ini sang suamipun kesulitan untuk bisa melaut, terlebih lagi laut tempat untuk mencari nafkahnya sudah tercemar limbah. "Sekarang ini susah mas! untuk mendapatkan kepiting dan rajungan, apalagi laut sekarang banyak limbahnya" sahut Wasta. Penghasilan yang didapatinya dalam satu minggu hanya Rp 150 ribu. Itupun kalau lagi dapat banyak tangkapan.

"Kalau tak ada limbah tangkapanya bagus, namun hasilnya cuma bisa untuk makan dan menabung untuk bayar kontrakan rumah" kata Wasta. Penghasilan pas-pasan ini cuma untuk bayar kontrakan Rp 250 ribu/ bulannya, makan sehari-hari dan anak kedua Arjuna yang baru berusia 2 tahun.

"Sedih sih pak! kalau anak sampai tak bisa melanjutkan sekolah, apalagi si anak itu punya keinginan untuk melanjutkan" tuturnya.

Nasib serupa juga dialami Ani 47, warga RT 6/7 Marunda terpaksa tidak mampu lagi menyekolahkan anaknya lantaran tak punya biaya kebutuhan untuk pendidikan anaknya. Kini Dewi 13, hanya bisa sekolah sampai di kelas lima saja. "Habis mau gimana lagi mas! penghasilan pas-pasan, biaya kebutuhan sekolah seperti perlengkapan dan uang buku harus membayar. Sementara untuk makan saja kembang kempis" keluhnya.

Ani yang kesehariannya hanya pedagang makanan dan minuman di pantai Marunda dan suaminya Mursal 48 pengemudi ojek motor ini hanya bisa pasrah dan berharap agar ada solusi dari pemerintah. Hal senada disampaikan Minah 40, warga RT 7/7 Marunda lainnya. Dirinya tak mampu lagi untuk bisa menyekolahkan anaknya Kristina 12 tahun yang baru tamat SD tahun ini. Ibu beranak tiga ini pesimis karena melihat NEM anaknya hanya 16.20. besar kemungkinan tidak mendapatkan sekolah negeri.

Aslyik 49, Ketua Nelayan pesisir Al-Alam Marunda membenarkan banyaknya anak-anak dipesisir pantai Marunda putus sekolah lantaran orangtua mereka tak mampu lagi membiayai karena sekarang ini sulit bagi nelayan untuk mencari nafkah.

Begitupun dengan fasilitas pendidikan di kawasan pesisir, hanya ada sekolah negeri tingkat SD, namun untuk sekolah tingkat SLTP harus mencari ke wilayah lain atau ke Bekasi Utara. " rata-rata pendidikan anak-anak nelayan di sini hanya sampai di bangku SD,karena di pesisir tak ada SMP negeri. Kalaupun ada lokasinya jauh dan butuh biaya trasport mahal" ujarnya. (Bian)

Minggu, 03 Juli 2011

Warga Sesalkan Camat Dan Lurah Studi Banding Ke Luar Kota

TANJUNG PRIOK- Studi banding yang dilakukan Camat dan lurah Se- Jakarta Utara ke luar kota yakni Surabaya kemudian ke Bali sangat disayangkan oleh masyarakat. Tujuan studi banding untuk melihat dari dekat suksesi Kota Surabaya yang mendapatkan Adipura tahun 2011 ini. Pasalnya kegiatan studi banding tersebut dilakukan pada jam kerja yakni jum,at kemarin. Padahal hari tersebut merupakan hari kejepit dan dimana banyak masyarakat membutuhkan pelayanan umum.

"Saya tahu studi banding untuk kepentingan pekerjaan, masa sih cuma gara-gara engga dapat Adipura harus studi banding, meskinya koreksi apalagi kita kota Metropolitan" Ujar Maman 34, warga Tanjung Priok menyampaikan keluhan kekesalan lantaran batal mengurus surat penting di kantor kelurahan. Begitu juga disampaikan Fhilis Sudianto LSM Pemerhati Sosial dan Pemerintahan Jakarta Utara yang juga mantan Dekel. Ia menilai kegiatan studi banding tak mestinya harus meninggalkan pelayanan masyarakat.Lagi pula kalau memang persoalannya Adipura, harusnya ada catatan apa yang menjadi kekurangan, dan anggaran studi banding tersebut bisa dimanfaatkan ke lokasi lingkungan untuk melakukan penataan mana yang jadi kekurangan dalam penilaian Adipura.

"Jadi sangat disayangkan lah! Kalau Camat dan Lurah harus mengorbankan pelayanan masyarakat untuk kepentingan masalah Adpura" tuturnya.Hasil pantauan di 6 Kecamatan dan 31  kelurahan di Jakarta Utara seperti di Kel Papanggo, Rorotan, Semper Timur, Kelapa Gading, Tanjung Priok, Pademangan TImur dan Kel Tugu Utara dan lainnya hampir sama keluhan masyarakat yang menyayangkan studi banding. "Daripada buat Studi Banding mendingan buat membantu warga miskin" ujar Sadiyah Warga Semper Timur, Cilincing Jakarta Utara.

Galian Pipa Tak Kunjung Selesai, Banyak Jalan Rusak!

TANJUNG PRIOK- Bongkar pasang yang dilakukan pihak PT Aetra untuk memasang pipa air bersih disejumlah akses jalan berdampak banyaknya kerusakan jalan yang menimbulkan rawan kecelakaan.  Seperti di Jalan Tipar Cakung, Jalan Plumpang -Semper, Jalan Walang Baru, Jalan Budi Mulya Pademangan, Jalan Pegangsaan Dua depan rumah sakit RSPI sedang dilakukan penggalian untuk pemasangan pipa. Ironisnya jalan-jalan yang sudah dibongkar tadi tak dikembalikan kondisinya seperti sediakala.

"Lihat  mas! habis digali ditutup dengan lumpur dan batu krikil saja, akhirnya jalan jadi berlubang dan membahayakan bagi pengguna jalan" tutur Irwan 45, warga Jalan Tipar Cakung,Semper Barat, Cilincing.

Hal senada disampaikan Kairil 34, warga Pademangan Barat yang mengeluhkan adanya galian pipa disepanjang Jalan Budi Mulya RW 10 dan sejumlah gang dan lorong pemukiman warga. Akibat galian pipa ini akses jalan ditutup. Akibatnya banyak pengguna jalan kebingungan untuk mencari jalan alternatif. "Meskinya jangan menutup jalan dong! sudah tahu di wilayah ini jalannya sempit dan banyak lorong-lorong" pungkasnya.

Menanggapi hal ini Pihak Sudin PU Jalan Jakarta Utara berjanji akan menindak lanjuti keluhan warga. Maman Suparman Kasudin PU Jalan Jakarta Utara menjelaskan, pekerjaan rekanan PT Aetra ini memang meminta ijin ke Dinas PU Jalan, tetapi dalam pengembalian kondisi jalan, pihak rekanan meski memperbaikinya seperti semula, jika tidak akan ada sangsi. "Kami sudah memanggil dan memperingatkan rekanan PT. Aetra yang melakukan pekerjaan galian untuk segera memperbaiki seperti semula jika pekerjaan selesai. Apalagi pengerjaannya dilakukan pada jalan yang baru selesai kami perbaiki" tuturnya.
 

Terima Kasih Pak Gubernur! Ada BKT Tak Ada Banjir!

CILINCING- Sejak di bangunnya Banjir Kanal Timur (BKT) di kawasan Rorotan dan Marunda, sejumlah pemukiman warga di bantaran kali yang selama ini menjadi langganan banjir tak kuatir akan banjir. Hal ini dirasakan beberapa hari lalu saat hujan deras turun sepanjang hari. Padahal lokasi rawan banjir ini kerap dilanda kecemasan saat hujan lebat turun.

"Tahun 2002 dan 2007 kawasan kami langganan banjir jika hujan deras satu jam turun, tapi sejak ada BKT hujan deras kemarin wilayah kami aman dari banjir" jelas Karma 45, warga RW 5 Bantaran kali Cakung Lama, Semper Barat, Cilincing.

Hal senada disampaikan, Muksin 34, warga Bantaran Kali Begog Semper Timur, dan Irsa 39, warga Kali Rawa Indah Sukapura, Cilincing. Lima tahun lalu wilayah kami selalu langganan banjir saat hujan deras turun. Namun sekarang ini warga merasa nyaman, sebab hujan deras dua hari lalu tak ada pemukiman warga yang terendam banjir.

"Terima kasih pak Gubernur! berkat pembangunan BKT di Cilincing wilayah kami sekarang bebas dari banjir dan warga tak lagi cemas! pungkas Muksin yang juga disampaikan warga Semper Timue dan Sukapura.

Dedi Tarmidzi Wakil Camat Cilincing menjelaskan, memang adanya BKT sangat mempengaruhi bagi wilayah-wilayah yang rawan banjir saat siraman hujan deras. Namun hujan dua hari lalu tak ada laporan dari posko banjir adanya rumah-rumah warga yang di lokasi rawan banjir terendam.

"Meski sekarang sudah ada BKT, warga harus tetap peduli pada lingkungannya seperti kepedulian pada lingkungan untuk membersihkan saluran dari sampah dan merawat saluran di lingkungannya" tutur Dedi Tarmidzi.

Kel Lagoa Duta Jakut Lomba P2WKSS Ke Provinsi

LAGOA- Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja Jakarta Utara berupaya untuk menjadi terbaik dalam lomba P2WKSS (Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera ) tingkat DKI Jakarta. Sebagai Duta Jakarta Utara berbagai persiapan dan inovasi di lakukan kelurahan. Seperti Warung Balita Sehati, di RW 9, Pemanfaatan tanah pekarangan,pembuatan rumah komposting skala dasa wisma,Gerakan masyarakat Magribdi RW 17,pengenalan mainan robotic bagi PAUD serta RW siaga.

Plh Lurah Lagoa Haryadi menjelaskan, Kel Lagoa sebagai Duta Jakut berupaya untuk melakukan perbaikan ke tingkat propinsi. P2WKSS adalah program peningkatan peranan perempuan dalam pembangunan yang berupaya mengembangkan SDM dan lingkungannya untuk mewujudkan keluarga sehat, sejahtera dan bahagia.

"Saat ini sedang membangun Bengkel Kerja pembuatan rumah komposting di 18 RW di Lagoa dengan metode media vertikultur (Pemanfaatan tanah pekarangan" ujar Haryadi.

Dijelaskan, saat ini pengembangan media vertikultur sudah ada di 6 RW, rencananya bulan ini 18 RW sudah memilikinya.

Henni, salah seorang kader PKK sangat bahagia mengingat wilayah menjadi salah satu terbaik mewakili kotamadya Jakut. "Jika semua perempuan berfikir untuk memajukan lingkungannya, lingkungan sehat,indah dan asri serta menjadi nilai ekonomis" tuturnya.

Sekedar diketahui, Kel Lagoa merupakan salah satu kawasan terpadat di Kecamatan Koja sebagai pemukiman padat. Jumlah penduduk sebanyak 60.187 jiwa dari 16.558 KK yang tersebar di 18 dari 222 RT. Ada 6 RW pemukiman padat memiliki berbagai potensi diantaranya Warung Balita, kebun bibit, pembuatan coklat,kolam gizi dan sebagainya. Begitu juga program KB di kawasan ini cukup baiknya. dari tahun 2009 lalu jumlah balita 4.340 balita, tahun 2010 4.083 dan tahun 2011 ini 3.910 balita.

Sabtu, 02 Juli 2011

Kel Lagoa Duta Jakut Lomba P2WKSS Ke Provinsi

LAGOA- Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja Jakarta Utara berupaya untuk menjadi terbaik dalam lomba P2WKSS (Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera ) tingkat DKI Jakarta. Sebagai Duta Jakarta Utara berbagai persiapan dan inovasi di lakukan kelurahan. Seperti Warung Balita Sehati, di RW 9, Pemanfaatan tanah pekarangan,pembuatan rumah komposting skala dasa wisma,Gerakan masyarakat Magribdi RW 17,pengenalan mainan robotic bagi PAUD serta RW siaga.

Plh Lurah Lagoa Haryadi menjelaskan, Kel Lagoa sebagai Duta Jakut berupaya untuk melakukan perbaikan ke tingkat propinsi. P2WKSS adalah program peningkatan peranan perempuan dalam pembangunan yang berupaya mengembangkan SDM dan lingkungannya untuk mewujudkan keluarga sehat, sejahtera dan bahagia."Saat ini sedang membangun Bengkel Kerja pembuatan rumah komposting di 18 RW di Lagoa dengan metode media vertikultur (Pemanfaatan tanah pekarangan" ujar Haryadi.

Dijelaskan, saat ini pengembangan media vertikultur sudah ada di 6 RW, rencananya bulan ini 18 RW sudah memilikinya.

Henni, salah seorang kader PKK sangat bahagia mengingat wilayah menjadi salah satu terbaik mewakili kotamadya Jakut. "Jika semua perempuan berfikir untuk memajukan lingkungannya, lingkungan sehat,indah dan asri serta menjadi nilai ekonomis" tuturnya.

Sekedar diketahui, Kel Lagoa merupakan salah satu kawasan terpadat di Kecamatan Koja sebagai pemukiman padat. Jumlah penduduk sebanyak 60.187 jiwa dari 16.558 KK yang tersebar di 18 dari 222 RT. Ada 6 RW pemukiman padat memiliki berbagai potensi diantaranya Warung Balita, kebun bibit, pembuatan coklat,kolam gizi dan sebagainya. Begitu juga program KB di kawasan ini cukup baiknya. dari tahun 2009 lalu jumlah balita 4.340 balita, tahun 2010 4.083 dan tahun 2011 ini 3.910 balita.
( bian)

Pengunjung Pasar Manfaatkan Layanan KTP Mobile

PADEMANGAN BARAT- Seperti biasanya tiap hari sabtu pagi Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Utara membuka pelayanan  KTP . Memasuki putaran ke 25 di Jakarta Utara pelayanan di fokuskan di kawasan RW 10 Pademangan Barat, Jakarta Utara. Lokasi kali ini ditempatkan di Pasar Tradisional Pademangan Barat, di Jalan Budi Mulya Pademangan Barat.

Tanpa menunda-nunda waktu, warga berbondong-bondong menuju lokasi kegiatan KTP Mobile.Selain warga bisa berbelanja untuk kebutuhan masak di rumah juga langsung memanfaatkan pelayanan ini. "Kalau begini sangat membantu mas! selain bisa berbelanja kebutuhan masak dirumah, juga bisa sekalian ngurus KTP yang sudah habis masa berlaku" ujar Ririn 34, warga RW 10 Pademangan Barat, Jakarta Utara.

Hal senada dirasakan Suryani 40, warga Pademangan Barat lainnya. Mendengar ada pelayanan KTP di halaman pasar, iapun langsung memanfaatkannya. Dan kegiatan yang dilakukan di pasar ini sangatlah membantu. " Gimana engga membantu, usai mengurus KTP langsung belanja keperluan dapur, pulang dari pasar KTP dan KK Baru langsung selesai" ujarnya.

Permohonan Perubahaan KK Membludak
Dalam pelayanan jemput bola (KTP Mobile) ini pihak sudin mengerahkan dua unit mobil pelayanan. Apalagi di pelayanan tersebut lebih banyak permohonan perubahan KK (Kartu Keluarga) yang mencapai ratusan pemohon. "Saat ini pelayanan jemput bola bukan hanya melayani perpanjangan KTP saja, melainkan perubahan KK Lokal ke KK nasional . Tujuannya untuk mempercepat verifikasi data kependudukan sebagai database pelaksanaan E-KTP" ujar Edison Sianturi Kasudin Dukcapil Jakarta Utara didampingi Purnomo Lurah Pademangan Barat, Jakarta Utara.

Dalam pelayanan ini tersebut, petugas melayani hingga sore hari, khususnya pencetakan KK yang dilanjutkan ke kantor kelurahan. Sedikitnya ada 61 permohonan KTP tercetak, 441 berkas permohonan perubahan KK serta 21 permohonan akte lahir.

Masalah Kemiskinan Di Jakut Belum Tuntas!

Jakarta Utara yang membujur di sepanjang pantai Teluk Jakarta itu memang menjadi etalase DKI Jakarta. Wilayah kota ini menjadi pintu masuk ke Ibu Kota dari laut karena di sana terletak Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Sunda Kelapa, Pelabuhan Muara Baru, Pelabuhan Marina-Ancol, dan pelabuhan-pelabuhan nelayan lainnya.

Pantai dan laut memang menjadi kelebihan Jakarta Utara dibandingkan dengan wilayah kota lainnya di Jakarta, selain Kabupaten Kepulauan Seribu. Selain pantai, Jakarta Utara mempunyai wisata sejarah, wisata religi, wisata alam, dan juga wisata kuliner.Jakarta berulang tahun ke 484 tahun, bagi Jakarta Utara berharap kedepannya lebih baik lagi. Terutama permasalahan-permasalahan sosial dan ekonomi masyarakatnya. Lihat saja, dari Kecamatan Penjaringan berjajar Pusat Pelelangan Ikan Muara Karang sekaligus pusat kuliner makanan hasil laut. Lalu ada Masjid dan Makam Luar Batang, ada Galangan Kapal VOC, Pelabuhan Sunda Kelapa, Islamic Center, Gereja Tugu dengan Kerontjong Toegoe, Stasiun Tanjung Priok, dan lainnya.

Selain wisata, di Jakarta Utara juga terdapat sentra industri perikanan, sentra perdagangan kayu, sentra pergudangan dan perdagangan, serta sentra perkantoran, permukiman, dan perbelanjaan.

Potensi wisata yang dimiliki Jakarta Utara memang luar biasa. Bambang melihat, andaikan saja potensi ini dapat dikembangkan lebih besar, tentu akan meningkatkan kehidupan masyarakat Jakarta Utara.

Keinginan wali kota untuk mengembangkan wisata agaknya bukan perkara mudah. Soal infrastruktur, anggaran, hingga sumber daya manusia, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Namun, semua kendala itu bukan untuk dihindari. Pengembangan wisata pesisir tidak bisa menunggu semua pekerjaan rumah itu dibenahi, baru wisata dikembangkan. ?Semua harus berjalan bersama. Sambil mengembangkan, sambil membenahi,? ujar Bambang.

Penggusuran

Dari segala upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Jakarta Utara, persoalan yang paling pelik adalah penggusuran. Jakarta Utara yang luasnya 139,5 kilometer persegi mempunyai beberapa titik permukiman kumuh. Misalnya saja di bantaran kali, jalur hijau, kolong tol,kawasan Gree Area dan juga hunian di lingkungan yang status kepemilikan tanahnya tidak jelas. Beberapa kali masalah penggusuran menjadi menonjol di wilayah ini. Contohnya masalah pembebasan lahan Tol JORR di Kalibaru, Cilincing yang belum tuntas, Waduk Pluit, pemukiman liar di bantaran Kali Cakung Lama dan lainnya. Begitupun dengan penggusuran di Taman BMW, hingga kini masih bersengketa.

PKL

Masalah PKL yang masih menjadi persoalan hingga kini belum juga dituntaskan. Seperti PKL di lorong 104 Permai yang masih berdagang meski tidak harus kucing-kucingan, PKL Islamic Center, PKL Perempatan Semper di atas Trotoar, PKL di Jalan Yos Sudarso (Samping Astra), PKL jalan Pluit Selatan Raya, PKL Jalan Warakas, PKL Jalan Tipar Cakung dan lainnya.  Akibatnya timbul kesemerawutan dan membuat akses jalan jadi macet.

Pendatang
Terkait masalah kemiskinan, penduduk pendatang yang mengadu nasib di Jakarta Utara patut menjadi perhatian Pemko Jakarta Utara. Saat ini di Jakarta Utara tercatat ada 54.827 rumah tangga sasaran yang masuk kategori miskin. Rata-rata mata pencaharian mereka adalah buruh pabrik dan pelabuhan, nelayan, dan sektor informal.

Mereka yang bekerja di tiga sektor ini sebagian besar adalah pendatang. Lokasi Jakarta Utara yang mempunyai pelabuhan menjadi pintu masuk bagi orang-orang di luar Jakarta. Sementara di wilayah kota ini sendiri terdapat pelabuhan dan kawasan industri, yakni Kawasan Berikat Nusantara Cakung dan Marunda.

Selain itu banyak pendatang yang bekerja menjadi nelayan jaring, nelayan sero, dan sebagainya. Belum lagi sektor-sektor informal, seperti pedagang kaki lima, tukang becak, ojek sepeda, dan pekerja seks komersial.

Para pendatang membutuhkan tempat tinggal yang murah, yang bisa terjangkau dengan pendapatannya. Akhirnya mereka menempati lahan-lahan kosong yang dibiarkan oleh pemiliknya.

Dalam waktu yang singkat, kawasan kosong itu langsung dipenuhi oleh bangunan liar. Apabila menunggu sedikit lebih lama, gubuk-gubuk itu berubah menjadi bangunan semipermanen dan lalu permanen penuh. Ada juga yang berubah menjadi rumah petak kontrakan sehingga membuat kawasan itu semakin padat dan kumuh.

Kepadatan penduduk ini menimbulkan risiko lain. Kawasan yang padat sangat rentan terhadap musibah kebakaran, kesehatan, keamanan, dan kebersihan. Masalah ini tentu tidak sejalan dengan impian menjadikan Jakarta Utara menjadi destinasi wisata utama di DKI Jakarta.Dengan alasan itulah (tentu saja ini bukan alasan satu-satunya), Pemkot Jakarta Utara mulai membenahi kawasan-kawasan kumuh. Perlawanan pasti didapat sehingga pemerintah harus bijak agar tidak jatuh korban.

Patut diakui, saat penggusuran terhadap 700 lapak yang ada di Jalan Lorong 104, Pemkot jakarta Utara telah mengambil tindakan tepat, yakni menggusur pada pagi hari. Saat itu, para pedagang sudah selesai berjualan dan tidak ada masyarakat umum di jalan. Namun, penggusuran dengan damai ini tidak ada artinya jika tidak ada kelanjutannya. Lahan dibiarkan kosong lama tanpa penjagaan sehingga ditempati oleh pencari tempat tinggal. Jika sudah begini, anggaran dan peluh yang telah dikeluarkan akan sia-sia.




Jumat, 01 Juli 2011

Lurah Dan Camat Se Jakut Studi Banding Ke Luar Kota, Pelayanan Umum Terganggu


TANJUNG PRIOK- Warga Jakarta Utara menyayangkan sikap para Camat dan lurah melakukan studi banding di jam kerja yang meskinya bisa dilakukan pada waktu yang lain. Para Camat dan lurah ini melakukan studi banding dalam rangka melihat lokasi titik Adipura di Kota Surabaya yang menjadi juara pada Adipura tahun 2011 ini.

"Memang sih ! pak lurah sedang pergi keluar kota, tapi engga tahu tujuannya kemana, namun pelayanan masih bisa diatasi oleh wakil atau sekretarisnya" ujar salah seorang petugas di kantor pelayanan Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok Jakarta Utara.

Hal senada juga disayangkan oleh Subur 45, warga RW 5 Semper Timur dan Marowi 38, Warga RW 3 Pademangan Barat, Tanjung Priok serta  Suprapto warga Kalibaru Jakarta Utara. Ia tidak mengetahui jika pada hari jum,at ini lurah maupun camat sedang plesiran ke luar kota. Meskinya mereka lebih mengutamakan pelayanan masyarakat, apalagi hari jum,at hari kejepit bagi masyarakat untuk mengurus sesuatu yang penting.

"Padahal hari ini saya membutuhkan tanda tangan pak lurah di KTP untuk mengurus asuransi anak saya, karena engga ada lurahnya terpaksa baru hari senin nanti bisa diambil" kesal Subur.

Hasil pantauan di lokasi, hampir semua pelayanan di kantor kelurahan di 31 Kelurahan dan 6 Kecamatan warga yang datang dan memerlukan bubuhan tanda tangan camat dan lurah kecewa. Dan berharap agar kegiatan seperti di jam pelayanan tidak terulang lagi.

Menanggapi hal ini Fhilis Sudianto LSM Pemerhati sosial dan Pemerintahan Jakarta Utara menjelaskan, meskinya para Camat dan lurah tidak melalaikan pelayanan masyarakat terutama yang berhubungan langsung dengan lurah seperti tanda tangan di KTP dan Kartu Keluarga. " Kalau memang tujuannya studi banding itu bermanfaat, toh bisa dilakukan pada hari diluar jam pelayanan seperti jum,at sore berangkat" ujarnya.

Kamis, 30 Juni 2011

Pak Ogah Kuasai Jalan Strategis Di Jakarta Utara

TANJUNG PRIOK- Pengatur jalan dengan meminta uang jasa kepada pengguna jalan atau disebut 'Pak Ogah' hampir mengusai di sejumlah akses jalan strategis maupun jalan alternatif. Karena ulahnya itu jalan menjadi macet dan dikeluhkan. Bahkan pak ogah ini tak segan-segan meminta secara paksa kepada mobil yang tidak memberikannya uang. Pengguna jalan meminta agar petugas untuk menindaknya serta mengambil alih untuk pengaturan arus lalulintas.


"Kesel aja kalau ada pak ogah, mereka cuma mau mengatur kalau si pengemudinya memberi uang, bahkan kalau akses jalan lagi macet mereka kesempatan untuk mencari uang dengan paksa" tutur Hermawan 40, warga Jalan Roa Malaka, Rorotan CIlincing Jakarta Utara.

Hal senada disampaikan Surya Ali 39, warga Cilincing. Ia meminta agar petugas segera melakukan penertiban terhadap pak ogah yang kian hari jumlahnya makin menjamur. Disepanjang Jalan Raya Cacing sekitar puluhan pak ogah sibuk memanfaatkan macet untuk meminta uang kepada sopir. Merekapun tak segan-segan menggunakan kekerasan meminta kepada pengemudi. "Saya juga heran mereka itu kok engga ditertibkan, padahal sudah meresahkan banyak pengguna jalan" tuturnya.

Hasil pantauan dilokasi, puluhan pak ogah banyak ditemukan di Jalan Raya Plumpang-Semper, Jalan Raya Cakung-CIlincing, Jalan Raya Tugu, Jalan Raya Kramat Jaya (Jalan Dukuh), Jalan Jampea, Jalan RE Martadinata, Jalan Lodan, Jalan Arteri Marunda, Jalan Raya Cilincing, Jalan Teluk Gong dan Depan Gedung VOC, Penjaringan.

"Kami engga pernah takut mas! kalau ditangkap petugas, nanti juga ada pengurus yang mengurusi kami jika tertangkap" tutur Edi 30, pak ogah yang biasa mengatur di Jalan Plumpang-Semper.  Dijelaskan, dalam satu hari ia bersama enam rekannya bisa menghasilkan uang sebesar Rp 200 ribu dibagi enam orang. Bahkan jika terjadi kemacetan penghasilan bisa lebih. "Habis mau kemana lagi bekerja mas! nodong ditangkap polisi, mendingan jadi pak ogah" cetusnya.


(bian)